Belum Ada Judul
Waktu menunjukkan Jam 9 : 30 saya sedang mengisi si suparman bensin, suparman adalah motor kesayangan saya yang bermerek vespa PX150 sambil mengisap rokok surya. ''Berapa boss?'' Jawabku, ''Sepuluh ribu, kamu itu seakan akan baru beli saja di sini'' kata penjual bensin sambil menjulurkan tangan ''hahahaha sorry boss, supaya lebih kerenki toh kayak di film film ka'' membalasnya sambil menjulurkan uang 10,000 ''duluangka pale boss'' jawabku kemudian menyalakan mesin suparman, setelah beberapa kali mencoba menyalakan suparman yang tak kunjung-kunjung bunyi saya gerang. ''Jangko kasi malu malu ehh, jangan sampai beginiji na kujualko'' dengan nada kesal sambil memukul batoknya, tak lama menghakimi suparman saya baru sadar ternyata kontak on/off nya belum saya putar.
Setelah kontak nya on akhirnya saya berangkat ke sekolah, sekolah saya adalah sekolah nomor 1 dan paling tertip di kampung saya, SMAN 10 adalah namanya. Karena sekarang sekolah saya sudah masuk dari tadi, akhirnya saya belok di pertigaan di sebuah lorong kecil. Lorong penyelamat bagi siswa siswa yang terlambat masuk sekolah, lorong itu ada di belakang sekolah saya. Yang di mana jika kamu masuk di lorong itu berarti kamu akan siap panjat pagar yang tinggihnya sekitar satu setengah meter yang di mana di saat kamu terjatuh kemungkinan besar kamu akan mendapat dua masalah.
Yang pertama kamu akan masuk ke ruang UKS sekolah (USAHA KESEHATAN SEKOLAH) dan yang ke dua kamu akan masuk ruangan BK (BIMBINGAN KONSELING) kenapa punya dua masalah, karena khusus di sekolah saya, ruangan UKS dan ruangan BK sangat dekat hanya dinding setipis 15 cm yang jadi perantaranya. Maka jika kamu masuk di UKS otomatis kamu akan ketahuan oleh guru BK karena guru BK saya adalah pembina PMR yang sedang tugas di UKS. Jadi siswa yang biasanya panjat pagar di sekolah kami hanyalah siswa yang mempunyai kemampuan khusus dengan kelincahan di atas normal, cengkraman kuat seperti rajawali, mata tajam bagaikan elang, dan yang paling penting kecepatan lari seperti puma.
Setelah saya sampai di parkiran motor di belakang sekolah, kuparkir suparman ditempat biasanya. Tempat parkir yang ada di belakang sekolah saya sebenarnya bukan tempat parkir resmi yang seperti ada di depan dan di pekarangan sekolah, tempat parkir ini adalah pekarangan rumah warga yang tidak ikhlas tanahnya bebas di parkiri tapi karena dia sadar yang memarkir motor di pekarangannya adalah siswa yang bandel bandel jadi dia hanya bisa pasrah dan berserah diri. Setelah memarkir si suparman, saya melangkah keluar dari pekarangan parkir dan tiba-tiba saya berhenti seperti melupakan sesuatu, sesuatu yang rutin atau mungkin sudah jadi tradisi bagi saya. ''Kaya' ada kulupa ini, apa di?'' Bicara sendiri seperti orang gila, ''astagfirullah bahaya'' saya ingat.
Ternyata kebiasaan saya itu berkaca di spion motor sebelum masuk sekolah. ''Gemmara mintongko kau akkang'' berbicara dengan bayangan di kaca spion yang tak lain adalah bayangan saya sendiri, setelah selesai akhirnya saya berjalan menuju benteng sekolah. Pagar yang kokoh tinggi menjulang sudah tepat di hadapan saya, Pagar yang kusam di tumbuhi banyak lumut lumut licin dan taburan serpihan kaca di atasnya menambah ke hororannya, tiba-tiba jantung saya berdegum kencang, darah saya tiba tiba mengalir deras ''inimi kapang yang di bilang cinta'' kataku sambil melanjutkan basmalah kemudian menelan ludah.
Tak panjang lebar saya melompat naik, setengah kepala saya telah melawati pagar, situasi adalah paling terpenting. Setelah saya merasa situasi sudah aman terkendali, ku ayungkan kakiku dan mengeluarkan seperdua tenagahku. Buuuffff, suara sepatuku yang sudah sampai di tanah. ''Selamat sengka'' kataku dan kemudian berjalan ke kanting pam Bau', pam Bau' adalah ibu kanting di sekolah saya yang tidak di anggap dan di tulis secara resmi di daftar ibu ibu kantin di sekolah saya. Bukan tanpa alasan, karena kantin Pam Bau' ada di sudut paling belakang dan paling strategis di jadikan tempat merokok.
Kantin ini juga adalah tempat pelarian siswa siswa yang bolos maka, jangan heran jika tempat ini sudah dari dulu ingin di musnahkan oleh sekolah. Tapi Pam Bau' seperti mempunyai sihir yang hebat, konon tempat ini mulai dulu sampai saat ini hanya selalu di rencanakan ingin di tutup namun sampai sekarang masi tetap beroprasi, itulah hebatnya Pam Bau'. ''Ooo pam Bau'' kataku sambil menaruh tas di meja warungnya, ''kukirako kau berhentimako sekolah akkang'' bicara sambil mencuci piringnya ''haaahh, sembaran tong itu kita iya. Siapa seng tanyakki'' saya menyangkal ''karna adamako berapa minggu enda pernah ku lia''', ''ohh, ada masalahku pam Bau''' bantah saya ''ohh bagusji pale itu kalo tidak berhenti jako'' jawabnya sambil membersihkan tanganya yang basah.
''Bingkatta dua dih, iherilpa bayarki sentar'' Heril adalah teman sekelas saya, dia adalah anak pedagang cenkeh paling besar di kampungnya, dia satu satunya teman yang saya datangi saat saya punya masalah, masalah utang lebih tepatnya. ''Awwahh, aja'. Iheril lagi kemaring mangutang'' pam Bau menentang dengan nada kesal, ''awwahhh, bangkrukki 02 ka. Iferi pa ple sentar pam Bau''' balas saya sambil mengunyah gorengan, Feri adalah anak kepala desa di desa saya, dan dia adalah jurus pamungkas saya yang baru akan saya keluarkan dalam ke adaan genting seperti sekarang ini.
Pam Bau diam beberapa detik dan kemudian kembali berbicara ''iyo pale, aja' nu paddongosikka loh'' nada pasrah kurang bergairah, saya menang lagi hari ini menaklukkan pam Bau' yang ke sekian kalinya. ''Duluangka pale dulu pam Bau' dih'' kataku kemudian keluar dari kantingnya, sampai saya di luar saya melihat kelas saya dari jauh ternyata freedom wajah bahagia yang di pakai teman sekelas saya tampak jelas di sini menandakan guru tak mengajar. Setelah satu bulan lebih lamanya libur, ada sedikit perasaan bahagia karena melihat tawa dan keributan kelas saya kembali, karena tahun ini adalah tahun ajaran baru penerimaan siswa siswi baru jadi beberapa minggu lalu kami libur 3 minggu, tapi saya mengambil libur lebih sebulan, mungkin karena itu Pam Bau berpikiran saya sudah berhenti.
''Bossku' barumi lagi muncul ehh'' sapa illang, Illang adalah teman sekelas saya yang selalu membuat kalas saya terus riang dan bahagia dengan lawakan lawakan yang sudah berulang ulang kali di ceritakanya namun tetap saja lucu kami dengarkan. ''Sibukka bela kali'' menjawabnya dengan kalimat dusta, ''sibukko tidur dih, hahahaha'' membalasku lagi sambil ngakak ''seriuska ini dih'' menyangkal dengan sedikit wajah serius, ''selaluka ke rumahnu sama iheril tapi bilangi emma'nnu tidurko'' membalasku lagi dengan menahan tawa. Emma' saya adalah nenek saya, yang dari dulu saya sudah anggap seperti ibu saya, sejak kecil dia yang mengasuh saya dan tanpa lelah menegur saya jika saya pulang larut malam dan bangun ke siangan.
''Terserah deh, mauka masuk dulu'' jawabku datar kemudian masuk ke kelas, ''Akkkkkkkkaaaaaannggggg'' terdengar teriakan keras yang sudah tidak asing di telinga saya. ''Oii lisa kenapako?'' Jawabku dengan ramah dan tersenyum manis, ''kenapako kenapako, janganmako pura pura lupa deh, bayarmi cepat uang kelaska 2 semester mako tidak pernah bayar'' membalas ku dengan nada melunjak lunjak. Lisa adalah bendahara kelas saya yang dari kelas satu sampai kelas dua saat ini tetap dia yang jadi bendahara, karena suaranya yang nyaring dan wajahnya yang seram selalu membuat wali kelas saya menjadi luluh dan tetap mempertahankan dia sebagai bendahara.
''Besoppi, habismi uangku ini.'' Sahut saya datar dan melaluinya ''kau itu besok, besok, ku tanyakko pak Qomus sebentar'' pak Qomus adalah wali kelas kami yang baru setelah naik ke kelas dua, ''iyoooo, tanyami'' membalasnya tanpa melihatnya. Saya duduk di bangku saya yang paling di sudut belakang selain paling di belakang, bangku saya juga kotor dan di penuhi filter dan puntung rokok di dalam lacinya.
''Fajri ada PR?'' Menyapa pajri yang sedang menyimpan sapu di belakang bangku saya, ''iyo, matematika, pkn, bahasa jerman, sama PAI'' jawabnya dengan datar. Pajri adalah ketua kelas di kelas saya dia adalah siswa lelaki yang paling rajin dan paling pintar di kelas saya, satu satunya siswa yang tidak pernah merasakan bolos dan tidak pernah penasaran dengan bolos, baju rapi, model rambut bela dua, dan bodinya seperti tentara membuat dia selalu terpilih menjadi ketua kelas, ketua kelas yang tidak di anggap di kelas saya selalu di tentang oleh teman seklas saya. ''Awwah, apai di pelajari ini kah'' jawabku mulai gelisah ''Bhs Indonesia, Penjas, sama PKN'' membalasku dengan wajah tanpa beban, tak usah di pertanyakan lagi dengan gaya dia berbicara dia pasti sudah mengerjakannya.
''Turukka pale dulu'' jawabku sambil mengambil buku di laci mejaku. ''Ok, tunggu ku ambilkangko'' membalasku dengan nada sedikit tidak ikhlas. Setelah mengerjakan pr PKN bell sekolah berdering menandakan isterahat pertama, tanpa menunggu lama saya keluar ke kelas dan sudah melihat dua teman saya, Roy dan Adda' berada di pekarangan kelas saya. ''Barusengko muncul dih'' sapa Adda' ''dariseng bertapa itu'' dilanjutkan dengan Roy ''sembaratto nu paui, pi jalang jalang ehh'' balasku dan berjalan. Hobi saya di sekolah ialah mengelilingi setiap sudut kelas sekolah, apalagi hari ini saya sudah punya junior, jadi saatnya berlagak keren di depan junior junior baru.
Setelah sampai di kompleks kelas anak satu, saya menyaksikan wajah wajah baru, wajah imut tanpa jerawat dan masih mulus mulus. ''Ada bede' cantik itu junior kali'' kata Roy yang lansung berbicara, ''terserah deh, mauka dulu ke wc'' balasku tanpa mempedulikan perkataannya. Setibaku di toilet, toiletnya semua full brrukk, brukk, brukk. Ku ketok pintu toilet dengan kencang. ''Tunggu'' jawab suara wanita di balik pintu toilet, ''cepakko weee'' balasku dengan nada kesal, setelah menunggu kurang lebih tiga menit akhirnya pintunya terbuka, keluarlah sosok wanita yang tersenyum dengan dua lesung pipit di pipinya. ''Maaf kak, lama'' jawabnya lembut dan kemudian meninggalkanku, emosiku yang tadinya melunjak tiba tiba hilang bagaikan di sapu bersih oleh senyumnya yang sagat manis.
Aku terpaku, itu adalah senyum terindah yang pernah aku saksikan di tambah lagi pipinya yang merah dan matanya yang sangat indah berhasil membuat jantungku meronta ronta. Sejak kejadian itu wajahnya selalu terbayang di kepalaku, sudah dua hari ini senyuman dan gambaran bola matanya masi mengambang ambang di kepala saya. Saya jatuh cinta, hanya dengan modal senyuman dia menaklukkanku, membuatku terpuruk selama dua hari ini. Kemudia saya bertekat ingin bertemu lagi dan melihat senyum indah itu lagi.
#bersambung#

Komentar
Posting Komentar